‘100 Hari pertama pemerintahan Presiden Barack Obama dalam prespektif budaya’

(sebuah dialog kecil budaya politik 100 hari Obama)

Dr. Yasraf A. Piliang, MA
Direktur Eksekutif  YAP Institute

100 Hari pertama pemerintahan Presiden Barack Obama adalah masa – masa yang menentukan dimana masyarakat dunia akan menilai hasil – hasil kongkret yang telah dicapainya dengan saat-saat awal terpilihnya Presiden Amerika, yang sangat fenomenal tersebut. Dan untuk membahas hal ini kami telah terhubung melalui telepon dengan Dr. Yasraf Amir Piliang, MA, pemikir pada Forum Studi Kebudayaan ITB dan Direktur Eksekutif YAP Institute

Metro TV  – World News (WN)
Selamat pagi Pak Yasraf?

Yasraf Amir Piliang (YAP)
selamat pagi

(WN)
Terimakasih sudah bergabung dengan kami di Metro World News pagi ini Pak. Bagaimana Anda melihat kaitan terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat Abad 21 yang fenomenal dengan hasil – hasil pencapaian kongkret dalam masa 100 Hari Pertama Pemerintahannya?

(YAP)
ya, kita harus melihat dahulu fenomena terpilihnya Barrack Obama itu sendiri. kami melihat disini ada 2 hal yang sangat fenomenal. yang pertama adalah bahwa dia orang ‘kulit hitam’. yang kedua adalah bahwa dia ‘presiden termuda’ diantara presiden – presiden Amerika lainnya. kita melihat bahwa terpilihnya Barrack Obama itu sendiri merupaka suatu hal yang dinantikan oleh masyarakat di seluruh dunia, tentang kebijakannya sendiri. dalam pengertian hal – hal yang kongkret yang dia lakukan, dalam 100 hari pemerintahannya. kita mencatat disini ada 2 hal yang dilakukan oleh Barrack Obama sendiri: pertama adalah hal – hal yang riil yang berkaitan dengan ‘politik praktis’, misalnya seperti penutupan penjara Guantanamo, kemudian kunjungan ke beberapa negara Timur Tengah oleh Hillary Clinton, memberikan stimulus ekonomi, dsb. kedua adalah ‘politik citra’ artinya dia mencoba membangun citra Amerika yang selama ini dalam pemerintahan Presiden Bush sudah begitu rusak dalam pandangan masyarakat dunia. Obama disini mencoba membangun kembali citra yang rusak itu dengan politik image. artinya dia mencoba membangun image yang baru dihadapan masyarakat dunia, melalui media, internet, video confference, dsb

(WN)
Pak Yasraf apa bisa dikatakan bahwa Obama sudah mencapai target sesuai dengan ekspektasi masyarakat dunia dalam kebijakan dan sikap politiknya?

(YAP)
100 hari ini adalah waktu yang begitu pendek untuk menilai berhasil atau tidaknya suatu kebijakan. kita melihat disini, minimal Obama telah melakukan upaya -upaya yang riil seperti tadi itu. dan menurut kami keberhasilan yang cukup fenomenal adalah kemampuan dia membangun ‘image’ tadi itu. artinya dia mencoba memperlihatkan pada masyarakat dunia bahwa pendekatan politik pemerintahannya itu adalah pendekatan yang ‘soft power’, dalam pengertian pendekatan yang kultural. ini sangat berbeda dengan pendekatan yang dilakukan oleh George Bush yang menurut kami sangat militeristik. dan pendekatan yang militeristik menurut kami, mengabaikan pembangunan ‘positive image’. yang dia dilakukan adalah hal – hal yang riil; dengan melakukan penyerangan, instrevensi dsb

(WN)
Lalu perubahan image itu berkaitan erat dengan slogan ‘change’ yang diusung dan menjadi isu sentral pada masa kampanye Obama yang disebut menjadi kunci sukses dalam mendulang dukungan rakyat Amerika. Sejauh mana sebenarnya slogan ‘change’ ini , dimaknai sebagai produk budaya politik yang ‘laku dijual’ dalam mempengaruhi pemilih?

(YAP)
ya, kita mencatat dalam kampanye – kampanye politiknya memang Obama kental sekali mengusung isu ‘perubahan’ ini. dan perubahan yang dia tawarkan adalah perubahan pada kebijakan praktis politiknya maupun kebijakan kultur politiknya. kita melihat bahwa ‘perubahan kultur politik’ itu sendiri yang fenomenal, artinya dia mencoba menampilkan citra presiden itu sendiri dengan tidak terlalu ‘formal’ seperti presiden – presiden yang sebelumnya dan berani melakukan pendekatan – pendekatan politik yang mungkin dianggap ‘tabu’ oleh presiden – presiden yang sebelumnya

(WN)
Lalu fenomena terpilihnya Obama adalah bukti potensi kekuatan kampanye media yang berhasil melampaui realitasnya. Sejauh mana kemudian peran virtual community ini, yang dikelola tim kampanye Obama. Dan bagaimana efektifitas perannya secara politis dalam membangun citra pemerintahan Obama, terutama dalam 100 hari pemerintahanya ini?

(YAP)
pertama, kita melihat efektivitas media informasi yang bersifat virtual ini – sangat terlihat pada waktu kampanye. kita mencatat bahwa terpilihnya Obama itu sangat ditentukan oleh kemampuan dia menggunakan virtual media seperti facebook, website, sms. kita juga melihat kemampuan dia ‘mengelola’ media informasi secara efektif – merupakan ‘kunci’ dalam kemenangannya. artinya melalui media – media itu dia berhasil membangun citra dirinya yang baru; yang mengusung isu tentang perubahan, isu tentang presiden muda, isu tentang perubahan pendekatan di timur tengah, dsb. hal ini yang kemudian juga muncul sebagai usaha dalam ‘pembangunan’ opini publik selama 100 hari program pemerintahannya. tentu diatas semua itu, Obama harus bisa ‘membuktikan’ bahwa semua janji yang menjadi kebijakan politik dalam kampanyenya bisa terealisasikan. yang pada gilirannya bisa terpenuhi ekspektasi masyarakat dunia untuk melihat ‘wajah baru’ Amerika Serikat – ‘yes u can

Iklan

Dr. Yasraf A. Piliang, MA

Dosen FSRD Institut Teknologi Bandung dan Direktur Eksekutif YAP Institute
http://www.facebook.com/profile.php?

(sebuah dialog kecil tentang budaya dalam facebook)

Sumbo Tinarbuko (ST):
Pak, Facebook (FB) sedang menjadi trend baru dan menarik minat jutaan manusia di dunia untuk menggunakannya, hal ini menunjukkan kecenderungan atau memperlihatkan fenomena apa?

Yasraf Amir Piliang (YAP)
ya menarik. fenomena FB akan menggiring komunikasi ke arah simplicity menjadi lebih ‘murah’, ‘mudah’ dan ‘semua arah’. model ‘komunikasi terbuka’ memungkinkan terjadinya; transaksi gagasan, wacana, bahkan ilmu pengetahuan. inilah fenomena ‘open society’. image, citra dan ekses – ekses lain terbentuk dengan sendirinya secara luas dan tak terbatas. pada saat yang sama didalamnya terbangun ‘multiplisitas’: identitas, ideologi, karakter, bentuk. atau dengan kata lain tidak ada lagi yang bersifat tunggal atau ‘singular’

ST:
Iya pak. Kecenderungannya sekarang, FB sudah menjadi ruang publik baru, bagaimana anda melihat hal itu?

YAP:
ya itu otomatis. dan tak akan terbendung. facebook adalah ruang publik baru yaitu electronic public sphere yang berbeda dari ruang publik nyata, di dalamnya orang mempunyai tingkat kebebasan lebih intens: kebebasan ekspresi, opini, kritik dan relasai. naif sekali jika suatu saat ada yang berniat ‘membredel’ atau ‘mengharamkan’ media ini. karena ciri masyarakat kedepan akan semakin terbuka dan egaliter

ST:
Bagi disiplin ilmu Desain Komunikasi Visual (De KaVe), apakaah FB bisa dikategorikan sebagai media baru?

YAP:
mungkin ‘media baru’ dalam konteks ‘baru kita gunakan’ atau baru dalam pengertian lebih berciri virtual media yang berbeda dengan media cetak. kalau ‘baru’ dalam konteks sebuah temuan mungkin tidak terlalu, hanya ia bersifat virtual, online, real time, tele-visual. kalau tidak salah media ini justru ditemukan oleh mahasiswa teknik yang ingin membangun komunikasi jaringan. alangkah eloknya jika ‘dekave’ juga bisa lebih berperan untuk ikut memprediksi kebutuhan – kebutuhan komunikasi visual di masa depan

ST:
Betul. Selama ini, kelemahan dari DeKaVe selalu ketinggalan dalam menciptakan media yang representatif untuk mewadahi proses komunikasi visual yang menjadi inti pekerjaannya, bagaimanakah ini? Kenapa bisa terjadi demikian ya?

YAP:
mungkin tanpa kita sadari, kita terlalu banyak ‘bernostalgia’ dengan hal-hal yang visual minded, artinya kita kerap lupa bahwa kita juga butuh dialog-dialog dalam ‘bahasa’ politik, ekonomi, teknologi, sosial, hukum, filsafat dsb. kita selalu dalam posisi belum siap atau bahkan cenderung menghindari ‘kompleksitas’. kita bahkan menjadi bangga dengan ‘memarjinalkan’ diri kita sendiri. kita kerap secara sadar ‘teralienisasi’ dalam satu kutub yang ‘eksklusif’,dan ironisnya ‘kita masih senang’ untuk menikmatinya

ST:
Bangga dengan memarjinalkan diri? Apakah itu artinya mental orang DeKaVe lebih banyak sebagai tukang komunikasi yang tidak komunikatif?

YAP:
harus kita akui mungkin ‘doktrin’ bahwa dekave adalah ‘ladang segalanya’ begitu melekat bahkan melembaga: ‘semua kebutuhan visual hadir setiap hari, dan ‘dekave’ akan mendulang itu semua’. ‘doktrin’ tersebut dalam konteks tertentu mungkin tidak terlalu bermasalah, namun disisi lain doktrin tersebut secara sadar akan membangun spirit superior. yang pada titik tertentu akan menjadi kontraproduktif, karena dengan spirit ‘superioritas’ yang berlebihan justru akan memperlemah daya kritis, kreatif, inovatif serta kepekaan – kepekaan budaya lain dengan sendirinya

ST:
Dan celakanya lagi kurikulum pendidikan DeKaVe lebih mengagungkan hasil praktik dan melemahkan peranan penting ilmu humaniora dan studi teori kebudayaan,begitukah?

YAP:
ya. itu menjadi salah satu agenda yang akan kita ‘perjuangkan’ melalui YAP Institute. intellectual discourse sebaiknya harus melembaga dan membudaya dalam konteks apapun. ‘karya visual’ harus dibarengi dengan ‘karya intelektual’. ini yang menjadi ciri abad informasi dimana setiap aktivitas mesti mempunyai basis ‘knowledge dan discourse’

ST:
Kembali ke FB, di status yang setiap kali anda tulis, selalu memberikan penguatan dari sisi wacana sosial budaya. Kenapa hal itu perlu dilakukan? Sementara para Facebooker lebih banyak menuliskan yang vulgar, yang telanjang, dan yang denotatif?

YAP:
lebih tepatnya mungkin budaya politik pemikiran. ‘kekuasaan’ dalam hal ini memegang peranan penting untuk menyusun dan merubah itu semua. oleh karenanya kekuatan kritis yang kita miliki harus bisa menjaga, membina, serta membangun kepentingan – kepentingan budaya yang lebih luas dan besar. termasuk yang kita bicarakan tadi. YAP Institute sangat peduli dan ingin belajar untuk memulai hal itu. kerja – kerja budaya kita semua semoga bisa saling melengkapi dan menginspirasi. karena mimpi-mimpi itu tentu harus kita bangun sendiri. kita ingin berjuang agar ruang-ruang abad informasi tidak menjadi ruang ‘banal’, ‘dangkal’ dan ‘permukaan’

ST:

Betul. Tentang memudar atau hilangnya budaya simbolik di kalangan masyarakat modern ini apakah akibat kekuasaan media yang senantiasa menyeragamkan, pola pikir dan alur perasaan masyarakat?

YAP:
mungkin salah satunya. yang jelas model komunikasi terbuka kerap menuntut ‘kedangkalan’ atau lebih mengagungkan ‘permukaan’. karena yang permukaan dan vulgar itulah yang ‘laku dijual’. inilah ciri cultural industry, dimana kebudayaan dikendalikan motif profit. karenanya menjadi ‘kewajiban’ kita semua untuk ikut mewarnai sekaligus melawan dengan ‘kedalaman – kedalaman’

Dr. Yasraf A. Piliang, MA
Dosen FSRD Institut Teknologi Bandung dan Direktur Eksekutif YAP Institute

(sebuah dialog kecil tentang ‘budaya’ sepak bola)

‘Sepak Bola Itu (seperti) Fashion’
disampaikan dalam Suara Merdeka Minggu, 25 Juni 2006
(dikontekstualkan jelang piala dunia – Afrika Selatan 2010)

menjelang piala dunia ke XIX di Afrika Selatan 2010. pesona dan demam Piala Dunia mulai kembali menyihir siapa saja. orang merasa lebih berarti ketika bisa terlibat dalam percakapan dan perdebatan mengenai sepak bola. “aku mengerti Piala Dunia, karena itu aku ada,” kata mereka

tak hanya itu. segala produk juga ‘berlomba’ mengiklankan diri sebagai bagian dari perhelatan yang dikomando oleh FIFA itu. para tokoh politik, ekonom,dan selebriti (dipastikan) tak mau ketinggalan hanyut dalam histeria akbar yang menimbulkan ektase massal itu. apa yang sesungguhnya sedang terjadi?, sepak bola sudah menjadi gaya hidup dan industri?, ia telah menjelma sebagai media untuk mengeksiskan diri?

Triyanto Triwikromo-35 (TT):
Sepak bola telah berkembang demikian pesat. Bagaimana proyeksi sepak bola pada masa mendatang?

Yasraf Amir Piliang (YAP):
jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi mutakhir terutama virtual reality maka setiap olahraga akan berkembang menjadi olahraga virtual. sepak bola yang sekarang ini memang belum virtual, tetapi masih merupakan simulasi. ia merupakan kejadian sebenarnya yang ditayangkan di televisi. sepak bola virtual tejadi jika jika gen sepak bola yang ada dalam permainan komputer direkayasa sedemikian rupa, sehingga pada masa depan saat bermain sepak bola orang tidak berada di hadapan monitor, tetapi mereka dalam posisi lain yang dilengkapi sensor. dengan kata lain, kelak akan muncul virtual foot ball

TT:
Sepak bola tidak alamiah lagi?

YAP:
ya. itu jika sepak bola diproyeksikan dalam kacamata teknologi. namun, jika dilihat dari kacamata budaya atau tontonan, ia akan menjadi sesuatu yang lain lagi. sepak bola pada era kita sekarang ini, telah menjadi industri. karena itu, di balik sepak bola, bekerja sistem ekonomi. ia menjadi media untuk mencari keuntungan, beriklan, dan taruhan. karena menjadi bagian dari ekonomi, permainan sepak bola dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi tontonan yang ‘laku’ untuk dijual. standar kebutuhan ‘industri tontonan’ menjadi syarat mutlak. sepak bola tanpa gol menjadi produk dagang yang ‘gagal’. itu berarti komodifikasi sepak bola menjadi semakin ‘canggih’

TT:
Apakah pada masa depan tidak ada lagi sepak bola alamiah? Segalanya menjadi olahraga virtual?

YAP:
saya kira agak sulit menghilangkan sepak bola alamiah. dalam sepak bola alamiah, orang masih bisa merasakan ‘kerjasama’ (teamwork), ‘bersinggungan’ (body charge) dan bahkan ‘melanggar’ (sliding tackle). dalam sepak bola virtual, sebelas pemain dari berbagai negara tidak harus berhadap-hadapan. hanya, bisa dipahami bahwa sepak bola alamiah sudah berhibrida dengan permainan lainnya. ia sudah ‘seperti gulat’. dalam gulat, kita kerap melihat ‘aksi pura-pura’ seperti kesakitan, kesenangan, atau kenyerian. dalam sepak bola, kita juga melihat semacam itu. ada yang pura-pura ‘jatuh’ (diving) dan ada ‘drama kesakitan’ sekaligus ‘histeria kemenangan’. sehingga sepak bola menjadi ‘panggung teatrikal’. ada yang sedikit tersenggol, tetapi teriakannya ‘bisa mengalahkan’ peluit wasit. sepak bola tak ubahnya menjadi teater lapangan berdurasi ’90 menit’

TT:
Jika demikian, sepak bola alamiah tidak lagi asli?

YAP:
ya. ia telah menyatu dengan prinsip-prinsip permainan dan tontonan lainnya. ia telah melakukan perkawinan silang dengan apa pun. yang jelas, sepak bola telah berhibrida dengan kepentingan ekonomi. dulu pertandingan muncul sebagai sekadar permainan antarkelompok. sekarang pertandingan itu dihadirkan sebagai tontonan untuk orang lain. dulu tentu juga ditonton oleh orang lain, tetapi mereka hanya suporter. kini, orang lain di luar suporter justru menjadi ‘pengendali’. karena itu, sepak bola telah memasuki ‘abad tontonan’

TT:
Yang juga menarik, hampir semua iklan diarahkan ke sepak bola. Gejala apa ini?

YAP:
dalam teori komunikasi, ada istilah ‘ikon yang menyedot perhatian massa’. ikon itu bisa berupa permainan, bisa berupa bencana. coba lihat berapa perusahaan yang ‘menebeng’ pada tragedi tsunami Aceh?. dalam sepak bola juga terjadi semacam itu. karena sepak bola menjadi perhatian lebih dari tiga miliar manusia, itu merupakan peluang besar bagi para pemasang iklan. tidak terlalu aneh jika setiap iklan mengikatkan diri kepada sepak bola, karena prinsip iklan memang untuk ‘mencari perhatian’ pemirsa sebanyak-banyaknya. sepak bola akhirnya memang menjadi kendaraan untuk segala keinginan ‘sang iklan’

TT:
Apakah sepak bola memang memungkinkan publik mendapatkan ekstasi?

YAP:
ya. istilah ekstasi sebaiknya kita sepakati dalam pengertian hanyut, mabuk, dan tersedot perhatiannya kepada satu fenomena sepak bola. sesungguhnya tanpa iklan pun, sepak bola sudah bisa menyedot perhatian publik. jika kita gunakan istilah antropologi, sepak bola itu sudah menjadi fetish. ia menjadi kekuatan yang ‘memesona’ orang. penonton akan terhipnotis, terseret, dan tertarik pada sihir sepak bola. jadi, sepak bola itu memang semacam ekstasi. ketika iklan masuk, ia sesunguhnya memanfaatkan ekstase orang kepada sepak bola. ini sama dengan orang belajar bahasa Inggris yang harus menerangkan seluruh isi dunia dalam bahasa Inggris. jadi, ketika semua orang tertarik kepada sepak bola, apa pun kemudian ‘disepakbolakan’. apa pun dicarikan relasinya dengan sepak bola. guru mengajar matematika pun menerangkan pelajaran dengan ‘bahasa bola’

TT:
Apakah sepak bola dengan demikian telah menjadi penentu market positioning?

YAP:
ya. hukum ekonomi kita juga sangat bergantung kepada iklan dan promosi. iklan selalu mencari perhatian massa. apa pun yang menyedot perhatian massa pasti akan dimanfaatkan oleh iklan. gunung meletus, tsunami, perang, pengeboman, piala dunia, atau apa pun akan dimanfaatkan dan bermanfaat bagi iklan itu sendiri

TT:
Apakah dengan perayaan sepak bola yang berlebihan, olahraga ini pada akhirnya akan menjenuhkan?

YAP:
sepak bola tidak akan jatuh ke lubang kejenuhan. ia sangat berbeda dari sinetron. karena sinetron itu bisa terpola, sehingga berulang-ulang dan menyebabkan kita bosan. dalam sepak bola, tidak pernah kita dapatkan sesuatu yang monoton. dalam sepak bola, kita selalu mendapatkan tontonan baru: tehnik & strategi baru, pemain bintang baru, pelatih baru dan hasil pertandingan yang baru

TT:
Apakah hal itu disebabkan juga oleh sifat sepak bola yang penuh ketakterdugaan?

YAP:
ya. dalam sepak bola selalu tidak ada pengulangan. ia akan selalu fresh. ia selalu menjadi peristiwa baru. adegan-adegan dalam sinteron bisa diulang-ulang, tetapi dalam sepak bola tak ada hal semacam itu.sebagai sebuah pertandingan ia tidak pernah ‘direproduksi’. peluang-peluang yang muncul tak pernah bisa diulang. tendangan-tengdangannya tidak bisa terduga dan juga skor pertandingan menjadi satu hal menarik untuk selalu diprediksikan

TT:
Sebagai produk kebudayaan, sepak bola dan segala atributnya tiba-tiba menjadi sesuatu yang bernuansa Barat. Bisakah kelak ia menjadi sesuatu yang sangat berpola pada hal-hal yang berkait dengan Timur?

YAP:
asal sepak bola memang dari Barat. saya kira pada suatu saat ia bisa juga dikonotasikan dengan tempat lain. dulu bulu tangkis yang berasal dari India dan dikembangkan di Inggris juga berkesan Barat, kini justru olahraga itu identik dengan China. karena itu, bukan hal yang mustahil pada gilirannya sepak bola kelak identik dengan orang-orang asia. karena toh kini orang Jepang atau Korea mulai memasuki ‘wilayah’ itu

TT:
Para politikus, ekonom, atau selebriti kini memasuki wilayah wacana persepakbolaan. Mereka seakan-akan bilang, ”Aku mengerti bola, karena itu aku ada.” Fenomena apa ini?

YAP:
ini harus kita kaitkan dengan berbagai berbagai hal yang berhubungan dengan teori konsumsi. memelesetkan Descartes yang menyatakan, ‘aku berpikir, karena itu aku ada’, orang-orang konsumsi bilang, ‘karena saya mengonsumsi, saya ada’. konsumsi menjadi sesuatu yang superwajib. tanpa konsumsi saya tidak ada. tanpa konsumsi saya ‘tidak eksis’. sekarang, tanpa sepak bola, kita akan mendapatkan semacam kekosongan. ‘kita seakan-akan menjadi tidak ada’

TT:
Dalam kasus kemunculan selebritis dan para politikus yang menjadi presenter, apakah berlaku hal sama?

YAP:
para ‘pedagang” menjual sepak bola dengan berbagai cara. mereka akan menggunakan jasa orang-orang yang sudah terkenal, sekalipun mungkin tak pernah benar-benar tahu sepak bola. komentar selebritis atau siapa pun tidak penting benar. popularitas merekalah yang laku dijual oleh para ‘pedagang’

TT:
Apakah sepak bola menjadi media mereka untuk mengada?

YAP:
saya kira tidak. mereka justru dimanfaatkan oleh stasiun televisi. jika ada seseorang tidak dikenal kemudian menjual sawah hanya untuk membayar penampilan dirinya di televisi demi sepak bola, maka ia layak disebut sebagai orang yang menggunakan sepak bola untuk mengada. bonek-bonek juga menggunakan sepak bola ‘untuk mengada’

TT:
Hal-hal kontradiktif juga terjadi dalam sepak bola. Rokok yang jelas-jelas identik dengan ketidaksehatan bertemu dengan sepak bola yang jelas-jelas berelasi dengan kesehatan. Bagaimana menjelaskan fenomena ini?

YAP:
olahraga kita sekarang ini tidak lagi berurusan dengan mens sana en corpore sano. orang berolahraga bukan untuk kesehatan. sepak bola, sekarang bagi Beckham menjadi ‘mesin uang’. ini karena olahraga sudah menjadi profesi. baik olahragawan, pelatih, pemilik klub, atau pemilik televisi, atau siapa pun ‘yang mengada’ dalam olahraga, bertindak demi uang. tujuan ‘untuk sehat’ dalam sepak bola tenggelam entah berada di mana. karena itu, hal-hal yang kontradiktif tidak aneh lagi. dalam sepak bola, yang berlaku bukan lagi hukum kesehatan, tetapi hukum ekonomi. karena yang bisa membeli acara perusahaan rokok yang bisa merusak kesehatan ya bertemulah sesuatu yang ‘kontradiktif’. karenanya bisa dikatakan bahwa persenyawaan mereka ‘tidak kontradiktif lagi’

TT:
Sepak bola yang kita tonton di televisi sesungguhnya hanya simulasi. Ia hanyalah realitas kedua. Bagaimana menjelaskan kepada publik betapa sekarang ini mereka hidup dalam sihir televisi?

YAP:
sepak bola sekarang ini sudah menjadi arena yang berbeda dari budaya massa. budaya massa itu melahirkan bintang yang dikelilingi oleh para pemuja. orang mau terinjak-injak demi bersalaman dengan para bintang. sepak bola dengan demikian sudah menjadi budaya massa. dalam situasi semacam itu, muncul bintang-bintang semacam David Bechkam yang ‘tidak memiliki urusan dengan kita, tidak mewakili kepentingan kita, tidak merepresentasikan kita’ bahkan – tetapi kita puja setengah mati. ini yang menyebabkan kita hidup dalam simulasi atau dalam ‘kepalsuan’

TT:
Lalu relasi sepak bola sebagai tontonan dengan konsumerisme dan gaya hidup?

YAP:
karena sepak bola sudah masuk ke dalam budaya ekonomi, hukum-hukum ekonomi pun berlaku di dalam bola. bintang lapangan menjadi komoditas. istilah-istilah yang muncul dalam sepak bola pun menjumput dari ekonomi semacam musim transfer, nilai kontrak, dan jual beli. istilah-istilah dalam komoditas semacam pemunculan, pemuncakan, dan penurunan bintang juga beroperasi di dalam sepak bola. isu selebritas mulai memainkan tempo emosi penikmatnya.‘bintang bola David Beckham yang semakin bersinar di dunia mode atau CR7 yang ‘lebih’ bersinar diantara teman-teman wanita-nya’, adalah ‘isu’ yang kerap kita dengar dan menjadi ‘konsumsi’ menarik dari berita sepak bola dunia itu sendiri. bahkan dalam perkembangannya ‘industri bola itu mirip fashion’. bagaimana gaya rambut para pemainnya, aroma parfum apa yang digunakan, hingga celana dalam merek apa yang menjadi favorit para bintang lapangan itu, selalu ditunggu – tunggu para ‘penggilanya’. meski mereka sadar bahwa semua itu akan ‘cepat berubah dan kemudian menghilang’

TT:
Wah, jika demikian sepak bola itu bukan hanya urusan olahraga ya?

YAP:
ya. ia sudah mengalami ‘transsepakbola’. sepak bola itu ‘sudah kawin’ dengan ekonomi, media, dan budaya populer. dalam hal tertentu demi ekonomi bahkan mulai marak berita ‘manipulasi’ skor, ada pertandingan yang ‘diatur’, ada gaya hidup ‘glamour’. artinya ada prinsip-prinsip sepak bola alamiah yang mulai tereduksi. apa boleh buat?. zaman dan sepak bola memang terus berkembang dan tak mungkin dihentikan


(sebuah dialog kecil tentang ‘budaya pemikiran’)
petikan wawancara antara SKAU dengan Yasraf Amir Piliang tentang:
‘sebuah dunia yang membutuhkan penyadaran’
naskah wawancara oleh SKAU – (‘belum dipublikasikan’)

http://dewialessandrapurnamasari.blogsome.com/2008/08/14/spiritualitas-dan-realitas-kebudayaan-kontemporer-catatan-tentang-pemikiran-yasraf-amir-piliang/

SKAU:
Anda sering menggunakan pemikiran-pemikiran Jean Baudrillard, Paul Virilio, Gilles Deleuze & Félix Guattari serta Julia Kristeva, apakah Anda menganggap bahwa pemikiran mereka paling relevan untuk menanggapi situasi yang terjadi saat ini ataukah Anda sekadar ingin memperkenalkan pemikiran-pemikiran baru yang, notabene, belum banyak dikenal di Indonesia?

YAP:
kedua-duanya. pertama, pemikiran mereka memang perlu diperkenalkan, walaupun saya sendiri sebagai orang yang memperkenalkannya juga belum kenal begitu dekat dengan teori-teori tersebut, masih memahami ‘kulit luarnya’ saja. meskipun begitu, pemikiran mereka tetap perlu diperkenalkan agar kita tidak selalu ketinggalan dalam wacana dan pemikiran ilmiah. kedua, teori-teori tersebut perlu diperkenalkan karena ada perkembangan-perkembangan tertentu di dalam masyarakat kita yang tidak bisa lagi dijelaskan oleh teori-teori modern dan pemikiran-pemikiran modernisme. strukturalisme dalam bahasa maupun antropologi tidak bisa menjelaskan perkembangan masyarakat kontemporer yang tidak lagi mengacu pada sebuah struktur yang ‘mapan’, sebuah makna yang ‘stabil’, atau sebuah tanda yang ‘tidak berubah’ (ajeg)

SKAU:
Apa yang membuat Anda menjadi sangat tertarik dengan Cultural Studies, karena ketika Anda pulang dari Inggris terjadi perubahan total. Peristiwa apa yang membuat Anda tertarik dengan isu-isu sosial budaya?

YAP:
sebetulnya tesis saya – decoding postmodern style – adalah mengenai desain dengan menggunakan pendekatan yang bernuansa cultural studies. dan para pembimbing saya adalah dosen-dosen yang berkecimpung dalam cultural studies; yang satu adalah seorang psikoanalis, dan yang lainnya adalah seorang feminis. ketertarikan itu memang dibentuk di Inggris. di sana, bidang-bidang kebudayaan, khususnya studi sosial dan budaya, sudah merupakan bagian dari studi seni dan desain, bukan bagian yang terpisah. sehingga tidak heran jika banyak jurusan yang terkait dengan cultural studies justru berada di bawah Fakultas Seni Rupa dan Desain

sintetik: rumah dialog

April 29, 2009

membangun serta membuka ruang seluas – luasnya untuk mengembangkan ‘budaya dialogis’ dari berbagai basis pemikiran yang ‘elastis’ pada kebaruan, kemajemukan dan kemanusiaan. rumah dialog juga menawarkan dialog – dialog strategis, konseptual, transformatif dan dari segala arah atas problem – problem dalam meneropong ‘arah budaya’ di masa depan. rumah dialog mengagendakan upaya-upaya untuk ‘melawan’ dominasi banalitas, sterilisasi dan asylum budaya dengan mengembangkan ‘budaya tanding’ (counter culture)

membangun budaya dialogis dengan menawarkan;
a. seminar ilmiah tentang budaya untuk kemanusiaan,
b. pelatihan bersama untuk kemanusiaan tentang ‘kecerdasan budaya’,
c. diskusi terbuka tentang ‘budaya alternatif’ untuk kemanusiaan,
d. debat ‘budaya kekinian’ untuk kemanusiaan dari berbagai prespektifnya,
e. dialog ‘budaya keseharian’ dengan lebih produktif dan substantif