estetik: ‘sepak bola’

Juni 1, 2009

Dr. Yasraf A. Piliang, MA
Dosen FSRD Institut Teknologi Bandung dan Direktur Eksekutif YAP Institute

(sebuah dialog kecil tentang ‘budaya’ sepak bola)

‘Sepak Bola Itu (seperti) Fashion’
disampaikan dalam Suara Merdeka Minggu, 25 Juni 2006
(dikontekstualkan jelang piala dunia – Afrika Selatan 2010)

menjelang piala dunia ke XIX di Afrika Selatan 2010. pesona dan demam Piala Dunia mulai kembali menyihir siapa saja. orang merasa lebih berarti ketika bisa terlibat dalam percakapan dan perdebatan mengenai sepak bola. “aku mengerti Piala Dunia, karena itu aku ada,” kata mereka

tak hanya itu. segala produk juga ‘berlomba’ mengiklankan diri sebagai bagian dari perhelatan yang dikomando oleh FIFA itu. para tokoh politik, ekonom,dan selebriti (dipastikan) tak mau ketinggalan hanyut dalam histeria akbar yang menimbulkan ektase massal itu. apa yang sesungguhnya sedang terjadi?, sepak bola sudah menjadi gaya hidup dan industri?, ia telah menjelma sebagai media untuk mengeksiskan diri?

Triyanto Triwikromo-35 (TT):
Sepak bola telah berkembang demikian pesat. Bagaimana proyeksi sepak bola pada masa mendatang?

Yasraf Amir Piliang (YAP):
jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi mutakhir terutama virtual reality maka setiap olahraga akan berkembang menjadi olahraga virtual. sepak bola yang sekarang ini memang belum virtual, tetapi masih merupakan simulasi. ia merupakan kejadian sebenarnya yang ditayangkan di televisi. sepak bola virtual tejadi jika jika gen sepak bola yang ada dalam permainan komputer direkayasa sedemikian rupa, sehingga pada masa depan saat bermain sepak bola orang tidak berada di hadapan monitor, tetapi mereka dalam posisi lain yang dilengkapi sensor. dengan kata lain, kelak akan muncul virtual foot ball

TT:
Sepak bola tidak alamiah lagi?

YAP:
ya. itu jika sepak bola diproyeksikan dalam kacamata teknologi. namun, jika dilihat dari kacamata budaya atau tontonan, ia akan menjadi sesuatu yang lain lagi. sepak bola pada era kita sekarang ini, telah menjadi industri. karena itu, di balik sepak bola, bekerja sistem ekonomi. ia menjadi media untuk mencari keuntungan, beriklan, dan taruhan. karena menjadi bagian dari ekonomi, permainan sepak bola dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi tontonan yang ‘laku’ untuk dijual. standar kebutuhan ‘industri tontonan’ menjadi syarat mutlak. sepak bola tanpa gol menjadi produk dagang yang ‘gagal’. itu berarti komodifikasi sepak bola menjadi semakin ‘canggih’

TT:
Apakah pada masa depan tidak ada lagi sepak bola alamiah? Segalanya menjadi olahraga virtual?

YAP:
saya kira agak sulit menghilangkan sepak bola alamiah. dalam sepak bola alamiah, orang masih bisa merasakan ‘kerjasama’ (teamwork), ‘bersinggungan’ (body charge) dan bahkan ‘melanggar’ (sliding tackle). dalam sepak bola virtual, sebelas pemain dari berbagai negara tidak harus berhadap-hadapan. hanya, bisa dipahami bahwa sepak bola alamiah sudah berhibrida dengan permainan lainnya. ia sudah ‘seperti gulat’. dalam gulat, kita kerap melihat ‘aksi pura-pura’ seperti kesakitan, kesenangan, atau kenyerian. dalam sepak bola, kita juga melihat semacam itu. ada yang pura-pura ‘jatuh’ (diving) dan ada ‘drama kesakitan’ sekaligus ‘histeria kemenangan’. sehingga sepak bola menjadi ‘panggung teatrikal’. ada yang sedikit tersenggol, tetapi teriakannya ‘bisa mengalahkan’ peluit wasit. sepak bola tak ubahnya menjadi teater lapangan berdurasi ’90 menit’

TT:
Jika demikian, sepak bola alamiah tidak lagi asli?

YAP:
ya. ia telah menyatu dengan prinsip-prinsip permainan dan tontonan lainnya. ia telah melakukan perkawinan silang dengan apa pun. yang jelas, sepak bola telah berhibrida dengan kepentingan ekonomi. dulu pertandingan muncul sebagai sekadar permainan antarkelompok. sekarang pertandingan itu dihadirkan sebagai tontonan untuk orang lain. dulu tentu juga ditonton oleh orang lain, tetapi mereka hanya suporter. kini, orang lain di luar suporter justru menjadi ‘pengendali’. karena itu, sepak bola telah memasuki ‘abad tontonan’

TT:
Yang juga menarik, hampir semua iklan diarahkan ke sepak bola. Gejala apa ini?

YAP:
dalam teori komunikasi, ada istilah ‘ikon yang menyedot perhatian massa’. ikon itu bisa berupa permainan, bisa berupa bencana. coba lihat berapa perusahaan yang ‘menebeng’ pada tragedi tsunami Aceh?. dalam sepak bola juga terjadi semacam itu. karena sepak bola menjadi perhatian lebih dari tiga miliar manusia, itu merupakan peluang besar bagi para pemasang iklan. tidak terlalu aneh jika setiap iklan mengikatkan diri kepada sepak bola, karena prinsip iklan memang untuk ‘mencari perhatian’ pemirsa sebanyak-banyaknya. sepak bola akhirnya memang menjadi kendaraan untuk segala keinginan ‘sang iklan’

TT:
Apakah sepak bola memang memungkinkan publik mendapatkan ekstasi?

YAP:
ya. istilah ekstasi sebaiknya kita sepakati dalam pengertian hanyut, mabuk, dan tersedot perhatiannya kepada satu fenomena sepak bola. sesungguhnya tanpa iklan pun, sepak bola sudah bisa menyedot perhatian publik. jika kita gunakan istilah antropologi, sepak bola itu sudah menjadi fetish. ia menjadi kekuatan yang ‘memesona’ orang. penonton akan terhipnotis, terseret, dan tertarik pada sihir sepak bola. jadi, sepak bola itu memang semacam ekstasi. ketika iklan masuk, ia sesunguhnya memanfaatkan ekstase orang kepada sepak bola. ini sama dengan orang belajar bahasa Inggris yang harus menerangkan seluruh isi dunia dalam bahasa Inggris. jadi, ketika semua orang tertarik kepada sepak bola, apa pun kemudian ‘disepakbolakan’. apa pun dicarikan relasinya dengan sepak bola. guru mengajar matematika pun menerangkan pelajaran dengan ‘bahasa bola’

TT:
Apakah sepak bola dengan demikian telah menjadi penentu market positioning?

YAP:
ya. hukum ekonomi kita juga sangat bergantung kepada iklan dan promosi. iklan selalu mencari perhatian massa. apa pun yang menyedot perhatian massa pasti akan dimanfaatkan oleh iklan. gunung meletus, tsunami, perang, pengeboman, piala dunia, atau apa pun akan dimanfaatkan dan bermanfaat bagi iklan itu sendiri

TT:
Apakah dengan perayaan sepak bola yang berlebihan, olahraga ini pada akhirnya akan menjenuhkan?

YAP:
sepak bola tidak akan jatuh ke lubang kejenuhan. ia sangat berbeda dari sinetron. karena sinetron itu bisa terpola, sehingga berulang-ulang dan menyebabkan kita bosan. dalam sepak bola, tidak pernah kita dapatkan sesuatu yang monoton. dalam sepak bola, kita selalu mendapatkan tontonan baru: tehnik & strategi baru, pemain bintang baru, pelatih baru dan hasil pertandingan yang baru

TT:
Apakah hal itu disebabkan juga oleh sifat sepak bola yang penuh ketakterdugaan?

YAP:
ya. dalam sepak bola selalu tidak ada pengulangan. ia akan selalu fresh. ia selalu menjadi peristiwa baru. adegan-adegan dalam sinteron bisa diulang-ulang, tetapi dalam sepak bola tak ada hal semacam itu.sebagai sebuah pertandingan ia tidak pernah ‘direproduksi’. peluang-peluang yang muncul tak pernah bisa diulang. tendangan-tengdangannya tidak bisa terduga dan juga skor pertandingan menjadi satu hal menarik untuk selalu diprediksikan

TT:
Sebagai produk kebudayaan, sepak bola dan segala atributnya tiba-tiba menjadi sesuatu yang bernuansa Barat. Bisakah kelak ia menjadi sesuatu yang sangat berpola pada hal-hal yang berkait dengan Timur?

YAP:
asal sepak bola memang dari Barat. saya kira pada suatu saat ia bisa juga dikonotasikan dengan tempat lain. dulu bulu tangkis yang berasal dari India dan dikembangkan di Inggris juga berkesan Barat, kini justru olahraga itu identik dengan China. karena itu, bukan hal yang mustahil pada gilirannya sepak bola kelak identik dengan orang-orang asia. karena toh kini orang Jepang atau Korea mulai memasuki ‘wilayah’ itu

TT:
Para politikus, ekonom, atau selebriti kini memasuki wilayah wacana persepakbolaan. Mereka seakan-akan bilang, ”Aku mengerti bola, karena itu aku ada.” Fenomena apa ini?

YAP:
ini harus kita kaitkan dengan berbagai berbagai hal yang berhubungan dengan teori konsumsi. memelesetkan Descartes yang menyatakan, ‘aku berpikir, karena itu aku ada’, orang-orang konsumsi bilang, ‘karena saya mengonsumsi, saya ada’. konsumsi menjadi sesuatu yang superwajib. tanpa konsumsi saya tidak ada. tanpa konsumsi saya ‘tidak eksis’. sekarang, tanpa sepak bola, kita akan mendapatkan semacam kekosongan. ‘kita seakan-akan menjadi tidak ada’

TT:
Dalam kasus kemunculan selebritis dan para politikus yang menjadi presenter, apakah berlaku hal sama?

YAP:
para ‘pedagang” menjual sepak bola dengan berbagai cara. mereka akan menggunakan jasa orang-orang yang sudah terkenal, sekalipun mungkin tak pernah benar-benar tahu sepak bola. komentar selebritis atau siapa pun tidak penting benar. popularitas merekalah yang laku dijual oleh para ‘pedagang’

TT:
Apakah sepak bola menjadi media mereka untuk mengada?

YAP:
saya kira tidak. mereka justru dimanfaatkan oleh stasiun televisi. jika ada seseorang tidak dikenal kemudian menjual sawah hanya untuk membayar penampilan dirinya di televisi demi sepak bola, maka ia layak disebut sebagai orang yang menggunakan sepak bola untuk mengada. bonek-bonek juga menggunakan sepak bola ‘untuk mengada’

TT:
Hal-hal kontradiktif juga terjadi dalam sepak bola. Rokok yang jelas-jelas identik dengan ketidaksehatan bertemu dengan sepak bola yang jelas-jelas berelasi dengan kesehatan. Bagaimana menjelaskan fenomena ini?

YAP:
olahraga kita sekarang ini tidak lagi berurusan dengan mens sana en corpore sano. orang berolahraga bukan untuk kesehatan. sepak bola, sekarang bagi Beckham menjadi ‘mesin uang’. ini karena olahraga sudah menjadi profesi. baik olahragawan, pelatih, pemilik klub, atau pemilik televisi, atau siapa pun ‘yang mengada’ dalam olahraga, bertindak demi uang. tujuan ‘untuk sehat’ dalam sepak bola tenggelam entah berada di mana. karena itu, hal-hal yang kontradiktif tidak aneh lagi. dalam sepak bola, yang berlaku bukan lagi hukum kesehatan, tetapi hukum ekonomi. karena yang bisa membeli acara perusahaan rokok yang bisa merusak kesehatan ya bertemulah sesuatu yang ‘kontradiktif’. karenanya bisa dikatakan bahwa persenyawaan mereka ‘tidak kontradiktif lagi’

TT:
Sepak bola yang kita tonton di televisi sesungguhnya hanya simulasi. Ia hanyalah realitas kedua. Bagaimana menjelaskan kepada publik betapa sekarang ini mereka hidup dalam sihir televisi?

YAP:
sepak bola sekarang ini sudah menjadi arena yang berbeda dari budaya massa. budaya massa itu melahirkan bintang yang dikelilingi oleh para pemuja. orang mau terinjak-injak demi bersalaman dengan para bintang. sepak bola dengan demikian sudah menjadi budaya massa. dalam situasi semacam itu, muncul bintang-bintang semacam David Bechkam yang ‘tidak memiliki urusan dengan kita, tidak mewakili kepentingan kita, tidak merepresentasikan kita’ bahkan – tetapi kita puja setengah mati. ini yang menyebabkan kita hidup dalam simulasi atau dalam ‘kepalsuan’

TT:
Lalu relasi sepak bola sebagai tontonan dengan konsumerisme dan gaya hidup?

YAP:
karena sepak bola sudah masuk ke dalam budaya ekonomi, hukum-hukum ekonomi pun berlaku di dalam bola. bintang lapangan menjadi komoditas. istilah-istilah yang muncul dalam sepak bola pun menjumput dari ekonomi semacam musim transfer, nilai kontrak, dan jual beli. istilah-istilah dalam komoditas semacam pemunculan, pemuncakan, dan penurunan bintang juga beroperasi di dalam sepak bola. isu selebritas mulai memainkan tempo emosi penikmatnya.‘bintang bola David Beckham yang semakin bersinar di dunia mode atau CR7 yang ‘lebih’ bersinar diantara teman-teman wanita-nya’, adalah ‘isu’ yang kerap kita dengar dan menjadi ‘konsumsi’ menarik dari berita sepak bola dunia itu sendiri. bahkan dalam perkembangannya ‘industri bola itu mirip fashion’. bagaimana gaya rambut para pemainnya, aroma parfum apa yang digunakan, hingga celana dalam merek apa yang menjadi favorit para bintang lapangan itu, selalu ditunggu – tunggu para ‘penggilanya’. meski mereka sadar bahwa semua itu akan ‘cepat berubah dan kemudian menghilang’

TT:
Wah, jika demikian sepak bola itu bukan hanya urusan olahraga ya?

YAP:
ya. ia sudah mengalami ‘transsepakbola’. sepak bola itu ‘sudah kawin’ dengan ekonomi, media, dan budaya populer. dalam hal tertentu demi ekonomi bahkan mulai marak berita ‘manipulasi’ skor, ada pertandingan yang ‘diatur’, ada gaya hidup ‘glamour’. artinya ada prinsip-prinsip sepak bola alamiah yang mulai tereduksi. apa boleh buat?. zaman dan sepak bola memang terus berkembang dan tak mungkin dihentikan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.