sintetik: ‘budaya pemikiran’
Juni 1, 2009
(sebuah dialog kecil tentang ‘budaya pemikiran’)
petikan wawancara antara SKAU dengan Yasraf Amir Piliang tentang:
‘sebuah dunia yang membutuhkan penyadaran’
naskah wawancara oleh SKAU – (‘belum dipublikasikan’)
http://dewialessandrapurnamasari.blogsome.com/2008/08/14/spiritualitas-dan-realitas-kebudayaan-kontemporer-catatan-tentang-pemikiran-yasraf-amir-piliang/
SKAU:
Anda sering menggunakan pemikiran-pemikiran Jean Baudrillard, Paul Virilio, Gilles Deleuze & Félix Guattari serta Julia Kristeva, apakah Anda menganggap bahwa pemikiran mereka paling relevan untuk menanggapi situasi yang terjadi saat ini ataukah Anda sekadar ingin memperkenalkan pemikiran-pemikiran baru yang, notabene, belum banyak dikenal di Indonesia?
YAP:
kedua-duanya. pertama, pemikiran mereka memang perlu diperkenalkan, walaupun saya sendiri sebagai orang yang memperkenalkannya juga belum kenal begitu dekat dengan teori-teori tersebut, masih memahami ‘kulit luarnya’ saja. meskipun begitu, pemikiran mereka tetap perlu diperkenalkan agar kita tidak selalu ketinggalan dalam wacana dan pemikiran ilmiah. kedua, teori-teori tersebut perlu diperkenalkan karena ada perkembangan-perkembangan tertentu di dalam masyarakat kita yang tidak bisa lagi dijelaskan oleh teori-teori modern dan pemikiran-pemikiran modernisme. strukturalisme dalam bahasa maupun antropologi tidak bisa menjelaskan perkembangan masyarakat kontemporer yang tidak lagi mengacu pada sebuah struktur yang ‘mapan’, sebuah makna yang ‘stabil’, atau sebuah tanda yang ‘tidak berubah’ (ajeg)
SKAU:
Apa yang membuat Anda menjadi sangat tertarik dengan Cultural Studies, karena ketika Anda pulang dari Inggris terjadi perubahan total. Peristiwa apa yang membuat Anda tertarik dengan isu-isu sosial budaya?
YAP:
sebetulnya tesis saya - decoding postmodern style – adalah mengenai desain dengan menggunakan pendekatan yang bernuansa cultural studies. dan para pembimbing saya adalah dosen-dosen yang berkecimpung dalam cultural studies; yang satu adalah seorang psikoanalis, dan yang lainnya adalah seorang feminis. ketertarikan itu memang dibentuk di Inggris. di sana, bidang-bidang kebudayaan, khususnya studi sosial dan budaya, sudah merupakan bagian dari studi seni dan desain, bukan bagian yang terpisah. sehingga tidak heran jika banyak jurusan yang terkait dengan cultural studies justru berada di bawah Fakultas Seni Rupa dan Desain
saya pernah dulu menonton film silat, pendekar dari negeri thaili, thaili itu negeri yang berada dilembah yang memanjang dicina. Konon disana terdapat pendekar yang mampu membunuh lawan dengan jurus lawan itu sendiri, karena sejak kecil dia terjebak dalam perpustakaan atas permintaan ibunya dan sehari2nya dilalui untuk menguasai kitab-kitab silat dari berbagai perguruan.
Kalau saya lihat, ada kemiripan bapak dengan pendekar itu. Bapak mengkritik dan mematahkan pemikiran2 barat, tetapi menggunakan pemikiran mereka sendiri. Kalau saya baca dibuku-buku bapak, tentu orientasinya banyak mengarah kepada kritik budaya dan pemikiran posmodern. Yang membuat saya senang adalah kritik bapak terhadap karya Lyotard yang berjudul libidonomics, dan yang membuatnya semakin asik bapak menggunakan jurus2 mereka sendiri untuk mengalahkan mereka.
Mungkin ini karena memang dasar urang kampung awak bagus semua ilmu agamanya, jadi mau lari kemana, bunganya saja yang berubah, namun kuda2nya masih tetap sama, insyallah.
Patahkan terus para liberal mata duitan itu pak, jangan sampai bapak melenceng dari jalan, saya terus mengikuti bapak dari tempat yang tidak bisa bapak lihat.
wassalam.
ingatkan jika satu waktu ‘lupa liriknya’ dan hanya ‘ingat jurusnya’. terimakasih
semoga Bapak dijauhkan dari itu, insyallah.