empirik: ‘budaya facebook’
Juni 1, 2009
Dr. Yasraf A. Piliang, MA
Dosen FSRD Institut Teknologi Bandung dan Direktur Eksekutif YAP Institute
http://www.facebook.com/profile.php?
(sebuah dialog kecil tentang budaya dalam facebook)
Sumbo Tinarbuko (ST):
Pak, Facebook (FB) sedang menjadi trend baru dan menarik minat jutaan manusia di dunia untuk menggunakannya, hal ini menunjukkan kecenderungan atau memperlihatkan fenomena apa?
Yasraf Amir Piliang (YAP)
ya menarik. fenomena FB akan menggiring komunikasi ke arah simplicity menjadi lebih ‘murah’, ‘mudah’ dan ‘semua arah’. model ‘komunikasi terbuka’ memungkinkan terjadinya; transaksi gagasan, wacana, bahkan ilmu pengetahuan. inilah fenomena ‘open society’. image, citra dan ekses – ekses lain terbentuk dengan sendirinya secara luas dan tak terbatas. pada saat yang sama didalamnya terbangun ‘multiplisitas’: identitas, ideologi, karakter, bentuk. atau dengan kata lain tidak ada lagi yang bersifat tunggal atau ‘singular’
ST:
Iya pak. Kecenderungannya sekarang, FB sudah menjadi ruang publik baru, bagaimana anda melihat hal itu?
YAP:
ya itu otomatis. dan tak akan terbendung. facebook adalah ruang publik baru yaitu electronic public sphere yang berbeda dari ruang publik nyata, di dalamnya orang mempunyai tingkat kebebasan lebih intens: kebebasan ekspresi, opini, kritik dan relasai. naif sekali jika suatu saat ada yang berniat ‘membredel’ atau ‘mengharamkan’ media ini. karena ciri masyarakat kedepan akan semakin terbuka dan egaliter
ST:
Bagi disiplin ilmu Desain Komunikasi Visual (De KaVe), apakaah FB bisa dikategorikan sebagai media baru?
YAP:
mungkin ‘media baru’ dalam konteks ‘baru kita gunakan’ atau baru dalam pengertian lebih berciri virtual media yang berbeda dengan media cetak. kalau ‘baru’ dalam konteks sebuah temuan mungkin tidak terlalu, hanya ia bersifat virtual, online, real time, tele-visual. kalau tidak salah media ini justru ditemukan oleh mahasiswa teknik yang ingin membangun komunikasi jaringan. alangkah eloknya jika ‘dekave’ juga bisa lebih berperan untuk ikut memprediksi kebutuhan – kebutuhan komunikasi visual di masa depan
ST:
Betul. Selama ini, kelemahan dari DeKaVe selalu ketinggalan dalam menciptakan media yang representatif untuk mewadahi proses komunikasi visual yang menjadi inti pekerjaannya, bagaimanakah ini? Kenapa bisa terjadi demikian ya?
YAP:
mungkin tanpa kita sadari, kita terlalu banyak ‘bernostalgia’ dengan hal-hal yang visual minded, artinya kita kerap lupa bahwa kita juga butuh dialog-dialog dalam ‘bahasa’ politik, ekonomi, teknologi, sosial, hukum, filsafat dsb. kita selalu dalam posisi belum siap atau bahkan cenderung menghindari ‘kompleksitas’. kita bahkan menjadi bangga dengan ‘memarjinalkan’ diri kita sendiri. kita kerap secara sadar ‘teralienisasi’ dalam satu kutub yang ‘eksklusif’,dan ironisnya ‘kita masih senang’ untuk menikmatinya
ST:
Bangga dengan memarjinalkan diri? Apakah itu artinya mental orang DeKaVe lebih banyak sebagai tukang komunikasi yang tidak komunikatif?
YAP:
harus kita akui mungkin ‘doktrin’ bahwa dekave adalah ‘ladang segalanya’ begitu melekat bahkan melembaga: ‘semua kebutuhan visual hadir setiap hari, dan ‘dekave’ akan mendulang itu semua’. ‘doktrin’ tersebut dalam konteks tertentu mungkin tidak terlalu bermasalah, namun disisi lain doktrin tersebut secara sadar akan membangun spirit superior. yang pada titik tertentu akan menjadi kontraproduktif, karena dengan spirit ‘superioritas’ yang berlebihan justru akan memperlemah daya kritis, kreatif, inovatif serta kepekaan – kepekaan budaya lain dengan sendirinya
ST:
Dan celakanya lagi kurikulum pendidikan DeKaVe lebih mengagungkan hasil praktik dan melemahkan peranan penting ilmu humaniora dan studi teori kebudayaan,begitukah?
YAP:
ya. itu menjadi salah satu agenda yang akan kita ‘perjuangkan’ melalui YAP Institute. intellectual discourse sebaiknya harus melembaga dan membudaya dalam konteks apapun. ‘karya visual’ harus dibarengi dengan ‘karya intelektual’. ini yang menjadi ciri abad informasi dimana setiap aktivitas mesti mempunyai basis ‘knowledge dan discourse’
ST:
Kembali ke FB, di status yang setiap kali anda tulis, selalu memberikan penguatan dari sisi wacana sosial budaya. Kenapa hal itu perlu dilakukan? Sementara para Facebooker lebih banyak menuliskan yang vulgar, yang telanjang, dan yang denotatif?
YAP:
lebih tepatnya mungkin budaya politik pemikiran. ‘kekuasaan’ dalam hal ini memegang peranan penting untuk menyusun dan merubah itu semua. oleh karenanya kekuatan kritis yang kita miliki harus bisa menjaga, membina, serta membangun kepentingan – kepentingan budaya yang lebih luas dan besar. termasuk yang kita bicarakan tadi. YAP Institute sangat peduli dan ingin belajar untuk memulai hal itu. kerja – kerja budaya kita semua semoga bisa saling melengkapi dan menginspirasi. karena mimpi-mimpi itu tentu harus kita bangun sendiri. kita ingin berjuang agar ruang-ruang abad informasi tidak menjadi ruang ‘banal’, ‘dangkal’ dan ‘permukaan’
ST:
Betul. Tentang memudar atau hilangnya budaya simbolik di kalangan masyarakat modern ini apakah akibat kekuasaan media yang senantiasa menyeragamkan, pola pikir dan alur perasaan masyarakat?
YAP:
mungkin salah satunya. yang jelas model komunikasi terbuka kerap menuntut ‘kedangkalan’ atau lebih mengagungkan ‘permukaan’. karena yang permukaan dan vulgar itulah yang ‘laku dijual’. inilah ciri cultural industry, dimana kebudayaan dikendalikan motif profit. karenanya menjadi ‘kewajiban’ kita semua untuk ikut mewarnai sekaligus melawan dengan ‘kedalaman – kedalaman’